Tampilkan postingan dengan label Geologi Danau Toba. Tampilkan semua postingan

Samosir (ANTARA News) - Kabupaten Toba Samosir atau biasa disebut Tobasa ditunjuk oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjadi tuan rumah pelaksanaan Festival Danau Toba 2014 

"Sebenarnya kami belum sanggup. Tapi karena mendapatkan dukungan dari sesepuh masyarakat Batak TB Silalahi akhirnya kami menerima penunjukan itu," kata Bupati Tobasa Parmin Pandapotan Simanjuntak di Samosir, Jumat usai bertemu Wamenparkekraf Sapta Nirwandar.

Menurut dia, dengan adanya penunjukan ini pihaknya langsung bergerak cepat untuk mempersiapkan festival termasuk melakukan koordinasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

"Kami akan bangun tribun di Lapangan Sisingamangaraja. Ada dua tribun yang akan kami bangun. Untuk dana lainnya akan dicarikan dari sponsor," katanya menambahkan.

Selain menyiapkan tim, pihaknya juga telah mempersiapkan waktu pelaksanaan Festival Danau Toba 2014 yaitu medio Juni hingga Juli. 

Hal ini dilakukan bertepatan dengan hasil libur sekolah yang salah satu tujuannya untuk mendorong hadirnya masyarakat pada festival tersebut.

Ketika ditanya tentang ikon Festival Danau Toba 2014, Parmin Pandapotan Simanjuntak mengatakan akan mengandalkan ulos. 

Untuk kegiatan olahraga, kata dia, di Kabupaten Tobasa mengandalkan arung jeram menyusuri sungai Asahan. 
JAKARTA, KOMPAS.com - Rencananya, di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara, akan dikembangkan sebuah taman bumi atau geopark. Hal ini cocok untuk pengembangan wisata minat khusus.
“Letusan Gunung Toba ratusan ribu tahun yang lalu membuat dunia berubah. Ini sedang kita persiapkan secara ilmiah untuk menjadikan Geopark Toba. Etalasenya sedang kita persiapkan dan akan dibangun di Samosir,” kata Bupati Samosir, Mangindar Simbolon saat ditemui di Jakarta, Jumat (26/7/2013).
Walaupun Danau Toba memiliki potensi wisata yang begitu besar, menurut Mangindar, kurangnya acara wisata membuat potensi tersebut kurang berkembang. Untuk itulah, tutur Mangindar, diadakan Festival Danau Toba sebagai penarik minat wisatawan.
Mangindar menjelaskan penginapan sebagai pendukung pariwisata pun sudah tersedia di kawasan Danau Toba. Berbagai penginapan ada di masing-masing kabupaten di sekitar Danau Toba. Tidak hanya hotel di sekitar Danau Toba, akomodasi di Medan, pun kini sudah menjamur.
Selain itu, lanjut Mangindar, dengan adanya bandara baru yaitu Bandara Internasional Kualanamu, diharapkan bisa meningkatkan potensi wisata Danau Toba. Sebab bandara ini dipandang dapat menjadi pintu gerbang Indonesia bagian barat untuk wisatawan domestik dan internasional.
supervolcano
Gunung Pusukbuhit yang disakralkan. Warna putih adalah solfatara. Foto: Oki Oktariadi
Danau Toba yang berada di jalur sesar aktif Sumatra sejatinya merupakan kaldera hasil letusan gunung api raksasa (supervolcano) yang diperkirakan terbentuk sejak 1 juta hingga 74 ribu tahun lalu. Letusan dahsyat itu mempengaruhi iklim dan meluluhlantakkan sebagian peradaban dunia. Saat ini, di Kawasan Toba tersaji keindahan alam yang menakjubkan, sementara aktivitas vulkanismenya seolah tertidur nyenyak. Namun, hakikatnya vulkanisme Toba tetap berlangsung. Tandanya adalah kehadiran Gunung Pusukbuhit yang di tepi danau. Bagi masyarakat Batak, gunung api bertipe B ini adalah tempat diturunkannya Raja Batak dari langit. Berbagai upacara adat dilakukan di lokasi ini, seperti perkawinan, syukuran hasil panen. Bahkan memohon doa restu sebelum berangkat merantau. Itulah sebabnya Pusukbuhit sangat disakralkan.
Danau Toba merupakan bagian dari dataran tinggi yang meliputi dua belas kabupaten/kota di Provinsi Sumatra Utara. Untuk mencapainya dari Medan dapat menggunakan bus melalui Parapat selama sekitar 5 jam. Alternatif lain, dapat menggunakan kereta api jalur Pematangsiantar atau Tebingtinggi, dilanjutkan dengan kendaraan roda empat menuju Parapat.
Kaldera Toba merupakan salah satu fitur vulkanik yang luar biasa yang terbentuk selama dua setengah juta tahun yang lalu. Penelitian mengenai Kaldera Toba hingga kini menghasilkan informasi yang penting dalam ilmu kebumian, khususnya kegunungapian. Informasi itu antara lain pola pembentukan bentang alam, adanya kaldera silikat, evolusi geokimia, pola periodik letusan, juga menggambarkan pola migrasi aktivitas vulkanik ke barat yang menghasilkan letusan supervolcano.
supervolcano
Peta lokasi Danau Toba, Sumatera Utara. Sumber: Atlas Nasional
Danau Toba merupakan kaldera yang sangat besar berukuran 30 hingga 100 km. Tinggi reliefnya mencapai 1.700 m. Kaldera ini terbentuk dalam beberapa periode letusan, yang terjadi pada 840.000, 700.000, dan 75.000 tahun yang lalu. Van Bemmelen (1949) berpendapat, sejarah pembentukan Danau Toba diawali dengan terbentuknya Tumor Batak seluas 300 km2 di antara Sungai Wampu di bagian utara dan Sungai Barumun di selatan. Pembentukan kubah (dome) akibat pengangkatan setinggi 2.000 meter itu ditunjukkan oleh puncak pegunungan seperti Gunung Sibuatan (2.457 m) di barat laut, Gunung Pangulubao (2.151 m) di timur, Gunung Surungan (2.173 m) di tenggara, dan Gunung Uludarat (2.157 m) di sebelah barat.
Letusan Supervocano dan dampaknya terhadap kehidupan
Letusan kolosal yang terjadi pada 74.000 tahun yang lalu menghasilkan endapan lapilli (Toba Muda Kerikil) yang ditemukan hingga ke wilayah India, yang berjarak sekitar 3.000 km dari pusat letusan. Seluruh permukaan Anak Benua India tertutupi material letusan dengan ketebalan rata-rata 15 cm dan tertinggi 6 m. Hal tersebut terbukti dengan adanya abu riolit di sekitar Danau Toba yang sama dengan temuan di Malaysia dan India, bahkan di dasar lautan India Timur dan perairan Teluk Bengal, kurang lebih 3.100 km dari Toba. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University menyimpulkan, total material letusan gunung api raksasa ini sekitar 2.800 km3. Sebanyak 800 km3 ignimbrit mengalir di dataran dan diperkirakan 2.000 km3 sebagai abu yang diterbangkan angin ke arah barat.
Debu vulkanik yang disemburkan ke angkasa saat letusan dahsyat yang berlangsung selama dua minggu tanpa henti itu membentuk tirai penghalang cahaya matahari yang sangat tebal di lapisan stratosfer. Hal itu menyebabkan intensitas cahaya matahari yang jatuh ke permukaan Bumi menurun drastic, tinggal 1% dari nilai normalnya. Dampaknya, suhu global menurun hingga 3 – 3,5º C dari suhu normal dan memicu terjadinya salah satu zaman es dan tumbuh-tumbuhan tidak bisa berfotosintesis selama beberapa lama. Bahkan, debu vulkanik yang mengandung sulfur itu membeku dalam lapisan es di Greenland.
supervolcano
Mata air panas di kaki Gunung Pusukbuhit. Foto: Oki Oktariadi
Ambrose (1998), yang meneliti DNA manusia purba, menyebutkan saat itu terjadi “genetic bottleneck” yang ditandai berkurangnya kelimpahan genetik dan populasi manusia. Lebih jauh disebutkan, jumlah manusia saat itu (generasi Homo sapiens awal seperti Homo Sapiens Neanderthalensis dan sejenisnya) merosot hingga tinggal 10 % dari populasi semula. Bahkan, akibat letusan raksasa Toba diduga menyebabkan Homo Neanderthalensis berevolusi menjadi lebih lemah.
Katastrofik berikutnya terjadi pada 12.900 tahun silam di ujung zaman es. Saat itu asteroid/ komet berdiameter 5 km jatuh ke Bumi dan meledak pada ketinggian 60 km di atas Eropa–Amerika. Ledakannya melepaskan energi 10 juta megaton TNT. Manusia neanderthal itu tidak sanggup lagi bertahan dan punah bersama kawanan mammoth, sang gajah raksasa. Stephen Oppenheimer, dalam Journey of Mankind Interactive Trail Adapted from “Out Of Eden”/ “The Real Eve” (2003) menyebutkan ras manusia berkurang menjadi hanya beberapa ribu orang akibat letusan Toba.
Ketebalan endapan Tuff Muda Toba yang terdapat pada dinding kaldera mencapai 400 m. Di Pulau Samosir, endapan tuff tersebut mencapai tebal > 600 m. Secara keseluruhan debu vulkanik diperkirakan menutupi area sedikitnya 4 juta km2, sekitar separuh ukuran benua Amerika Serikat. Itulah sebabnya Letusan Toba tersebut pantas disebut sebagai supervolcano.
Lama berselang, lambat laun kaldera terisi air dan terciptalah Danau Toba. Orang seolah melupakan gunung api raksasa yang pernah ada karena secara fisik memang sudah tidak nampak. Pada hakikatnya fenomena Gunung Raksasa Toba yang legendaris itu tidak hilang begitu saja. Kehadiran Gunung Pusukbuhit yang menyebarkan aroma belerang khas gunung api dari lapangan solfatara, masih menyimpan kenangan itu. Ini bisa diartikan aktivitas vulkanisme di Kompleks Kaldera Toba belum sirna, meskipun tubuhnya tidak lagi berukuran raksasa.
Gunung Pusukbuhit, yang disebut juga Busukbukit, berada pada posisi geografi 2o 37’ Lintang Utara dan 98o 39’ Bujur Timur mencapai tinggi 1.981 m atau 1.075 m di atas permukaan Danau Toba (Neumann van Padang, 1951). Ada tiga kecamatan yang berada di sekitar gunung tersebut, yakni Kecamatan Sianjur Mula-mula, Pangururan, dan Harian Boho. Aktivitas vulkanismenya masuk ke dalam wilayah Kecamatan Sianjur Mula-mula.
supervolcano
Polatektonik yang mempengaruhi KalderaToba, (PetaTektonikdimodifikasi dariSimkineta, 2006).
Mitos dan Tradisi Masyarakat Toba
Bagi masyarakat yang bersandar kepada kelisanan, hal-hal yang berada di luar kemampuan nalarnya dihubungkan dengan kekuatan gaib. Untuk berkomunikasi dengan alam gaib yang ada di sekitarnya, mereka melakukan upacara yang disertai sesajen dan doa. Upacara tersebut sesungguhnya dimaksudkan agar tercipta keseimbangan antara manusia dan alam sekitarnya.
Itupun terjadi pada masyarakat sekitar Danau Toba. Mereka percaya, Gunung Pusukbuhit adalah tempat turunnya Raja Batak. Konon, Siboru Deak Parujar, dewi cantik, turun dari kayangan karena tidak mau dijodohkan dengan Siraja Odap-Odap, meskipun keduanya keturunan dewa. Selain Siraja, ada raksasa bernama Naga Padoha Niaji yang juga jatuh hati kepada Siboru. Karena cintanya ditolak, maka setiap saat sang raksasa selalu mengganggu dengan menggoyang tempat tinggal Siboru dan mengakibatkan gempa bumi. Demi ketentraman tempat tinggalnya, maka Siboru menerima pinangan Siraja Odap-Odap agar menjadi pelindungnya. Mereka mempunyai banyak keturunan. Di antaranya, Raja Batak yang diturunkan di Busukbuhit.
Sang Raja kemudian membangun perkampungan di lembah gunung Sianjur Mula-mula. Perkampungan itu berada di garis lingkar Pusukbuhit di lembah Sagala dan Limbong Mulana. Secara turun-temurun kampung ini menjadi tempat upacara pemujaan dan permohonan doa agar selamat dari bencana, gagal panen, dan wabah penyakit. Tradisi ini membuat masyarakat Batak Toba merasa aman dan nyaman tinggal di wilayah Samosir dan sekitarnya. Mereka juga tidak merasa takut gunung api meletus.
Teror Gempa bumi dan Letusan Gunung Sinabung
Rasa aman dan nyaman yang dinikmati masyarakat Toba dan sekitarnya selama ini terusik isu gempa bumi akibat penunjaman megathrust Sumatra-Andaman yang diprediksi terjadi pada 2004 dengan besaran 9,15 Mw. Kabar burung itu tidak terbukti. Tetapi muncul kekhawatiran lainnya. Meletusnya Gunung Sinabung, Sumatra Utara, yang juga tipe B, membuat masyarakat Toba ketar-ketir. Akankah Pusukbuhit juga segera menyusul?
Kekhawatiran itu bukannya tanpa alasan. Krakatau bangkit dari tidur panjangnya selama 200-an tahun setelah gempa bumi mengguncang kawasan Selat Sunda di awal 1883. Namun, yang agak melegakan adalah gempa bumi besar yang menyebabkan tsunami di Aceh pada tahun 2004 tidak mengusik satu pun gunung api di wilayah itu. Boleh jadi pelepasan energi yang terkumulasi selama ini telah terbebas oleh gempa bumi.
supervolcano
Lembah Sagala dengan hijauanya sawah yang menjadi sumber kehidupan masyarakat. Foto: Oki Oktariadi
Kearifan Lokal dan Mitigasi Bencana
Letusan gunung api raksasa itu akhirnya membawa berkah. Keindahan alam, air yang melimpah, hasil ikan Danau Toba dan adanya mata air panas mengundang
wisatawan lokal dan mancanagara. Itu semua berati tambahan penghasilan bagi penduduk dan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Samosir.
Fenomena Gunung Pusukbuhit juga menarik perhatian berbagai disiplin ilmu, di antaranya geologi lingkungan, vulkanologi, atau antroplogi. Dari sudut pandang geologi lingkungan, Pusukbuhit dianggap sebagai situs cagar alam geologi yang menggambarkan Danau Toba dibentuk oleh aktivitas tektonik dan vulkanisme di masa lalu dan dapat dijadikan objek geowisata.
Dari segi kegunungapian, Pusukbuhit adalah gunung api yang memiliki kawah, tetapi tidak diketahui waktu letusannya di masa lalu. Gunung api tipe B ini dapat meletus seperti Sinabung, meskipun kemungkinannya sangat kecil. Pakar antropologi menyebutkan bahwa, Pusukbuhit disakralkan masyarakat Batak yang memiliki hubungan mitologis bernuansa sejarah.
Pada lereng Pusukbuhit, barisan rumah penduduk melingkari gunung. Di depannya terdapat lapangan luas yang tidak becek dan juga tidak berdebu. Kondisi lingkungan yang disebut huta ini pada umumnya berorientasi ke arah Pusukbuhit, namun ada beberapa yang berorientasi ke bukit terdekat.
Menurut Sitor Situmorang, huta merupakan tempat kediaman yang selalu berada di lereng bukit atau gunung dan tidak dipergunakan sebagai persawahan. Hal tersebut dihubungkan dengan konsep Pusukbuhit sebagai kiblatnya orang Batak. Karena kawasan tersebut merupakan tempat keramat untuk berbagai upacara.
supervolcano
Sopo Guru Tatea Bulan di Kecamatan Sianjur Mula Mula, Kabupaten Samosir, tempat turunnya Raja Batak. Foto: Oki Oktariadi
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan pada beberapa lokasi, umumnya penempatan lokasi pemukiman berada di dasar lembah pada lereng bagian atas punggungan bukit yang merupakan bahan rombakan (longsoran lama) yang cukup stabil. Tentunya tempat seperti itu dari sudut pandang hidrogeologi banyak mengandung sumber air tanah dangkal maupun mata air yang dibutuhkan pemukim. Sementara jalan-jalan antar huta dibuat dengan memangkas bagian lereng bukitnya dan batas-batas huta adalah sisa hasil pemangkasan tersebut yang juga berfungsi sebagai benteng tanah dari huta.
Keberadaan benteng batu kemungkinan juga dihubungkan dengan faktor keamanan dari serangan musuh dan binatang buas. Benteng huta ini juga dihubungkan dengan kepercayaan sebagai tembok magis penangkal pengaruh buruk dari luar yang dapat mengganggu huta, baik wabah penyakit maupun roh-roh jahat. Selain itu, benteng huta dihubungkan dengan kepercayaan bahwa leluhur harus ditempatkan pada tempat yang berada di atas supaya dapat terus melihat dan membimbing anak dan cucunya.
Kearifan lokal yang dikembangkan masyarakat Batak di Kawasan Toba secara tidak langsung telah memperhatikan kaidah-kaidah geologi lingkungan yang berkaitan dengan potensi sumber daya dan bahaya geologi yang ada disekitar huta. Misalnya, cara pemilihan lokasi dan pengelolaan lahan yang dapat diartikan sebagai upaya agar masyarakat tidak mengganggu areal persawahan yang berada di dasar lembah yang mengelilingi huta. Contoh lainnya, memindahkan material batuan pada lokasi pilihan dan menyusunnya menjadi benteng huta untuk menjaga huta dari pengaruh cuaca yang berubahubah, terutama angin.
Huta sebagai pemukiman tradisional Batak Toba merupakan hasil adaptasi lingkungan masyarakat di sana untuk menjawab tantangan alam. Namun keadaan tersebut lambat laun tergerus pengaruh luar
Dengan semua fenomena yang dimilikinya, Kawasan Pusukbuhit layak dikonservasi, artinya pemanfaatan ruang dapat dilakukan secara terbatas dan bijak untuk kelangsungan hidup manusia di sekitarnya.
yang tidak sesuai dengan tatanan tradisional atau kearifan lokal mereka. Padahal, pemahaman terhadap mitigasi bencana dapat direalisasikan dengan mengintegrasikan pola mitigasi tradisional dan modern menjadi satu kesatuan yang memberikan dampak ketaatan masyarakat secara spiritual maupun konseptual. Masyarakat akan memiliki kewaspadaan yang tinggi dalam menghadapi kemungkinan datangnya bencana, tanpa mengurangi rasa aman dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari.
Begitu pula keberadaan sumber air panas harus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat setempat melalui pengembangan wisata. Apalagi saat ini kawasan Pusukbuhit banyak menarik minat wisatawan domestik maupun internasional. Dalam hal itu, pengelolaan lingkungannya harus dapat memberikan kenyamanan bagi wisatawan dan keuntungan bagi masyarakat setempat. Dengan gambaran di atas, Gunung Pusukbuhit jelas memiliki nilai warisan geologi (geological heritages) yang terintegrasi dengan warisan budaya (cultural heritages). Itu artinya, masyarakat di Kawasan Pusukbuhit sudah sejak lama membina hubungan harmonis dengan segala potensi alam di sana. Hubungan itu dibakukan dalam berbagai ekspresi baik sebagai sistem sosial, budaya, seni maupun spiritualitasnya. Semua itu dilakukan agar harmonis dengan alam semesta.
Dengan semua fenomena yang dimilikinya, Kawasan Pusukbuhit layak dikonservasi, artinya pemanfaatan ruang dapat dilakukan secara terbatas dan bijak untuk kelangsungan hidup manusia di sekitarnya. Oleh karena itu, pengembangan ideal untuk Kawasan Pusukbuhit adalah pengembangan Taman Bumi Kaldera Toba.

Penulis adalah Penyelidik Bumi Madya, Ketua Dewan Redaksi Jurnal Lingkungan dan Bencana Geologi, dan Ketua Dewan Redaksi Buletin Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, KESDM.

Geologi (berasal dari Yunani: γη- [ge-, "bumi"] dan λογος [logos, "kata", "alasan"]) adalah Ilmu (sains) yang mempelajari bumi, komposisinya, struktur, sifat-sifat fisik, sejarah, dan proses pembentukannya. Sedangkan peta geologi adalah peta yang memuat penyebaran batuan di suatu wilayah.
Berdasarkan peta geologi yang dikeluarkan Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional lembar Sidikalang dan lembar Pematang Siantar, geologi di sekitar danau toba dapat dilihat pada gambar peta dibawah ini.


Gambar peta Geologi di sekitar danau Toba.

Deskripsi geologi berdasarkan peta geologi lembar Sidikalang

Batuan Sedimen dan Meta Sedimen
ALUVIUM  terdiri dari kerikil, pasir, lumpur, fanglomerat kipas, tanah diatome, koral
FORMASI MEULABOH  terdiri dari kerikil, pasir dan lempung

FORMASI TUTUT  terdiri dari konglomerat, batupasir, sedikit batulanau dan batulumpur.
FORMASI BARUS terdiri dari batupasir, batulumpur gampingan, sedikit gamping, konglomerat alas.
FORMASI SIBOLGA  terdiri dari batupasir, batulanau, batulumpur dan konglomerat
FORMASI GUNUNGAPI TAPAKTUAN terdiri dari anggota Batupasi: Batugamping metapelitik.

FORMASI SAMOSIR terdiri dari batupasir tufaan, batulanau, konglomerat dan tanah diatome
FORMASI PEUTU, Angota Parapat: Batupasir, konglomerat, batulumpur gampingan.
FORMASI KUALU terdiri dari serpih batupasi dan batulanau.
FORMASI KUALU Anggota Batugamping Sibaganding terdiri dari biokalsilutit.
FORMASI ALAS terdiri dari serpih, batulanau, pasir, wake, konglomerat.
FORMASI ALAS, Anggota Batugamping, pejal, batugamping hablur.
Formasi KLUET terdiri dari batupasir metakuarsa, metaklake, batusabak dan filit.
FORMASI BAHOROK terdiri dari metawake, metakonglomerat dan batusabak.
FORMASI TAPANULI TAK TERURAIKAN : Litologi seperti formasi Bahorok dan Formasi Kluet.
FORMASI KEUTAPANG terdiri dari perlapisan batupasir dan batulumpur
FORMASI BAONG terdiri dari batulumpur gampingan
FORMASI PEUTU, Anggota Belumai terdiri dari batugamping terumbu, batupasir glaukonit dan batulanau.
FORMASI BAMPO terdiri dari batulumpur Euxinic
FORMASI BRUKSAH terdiri dari batupasir dan konglomerat.
KELOMPOK WOYLA TAK TERURAIKAN terdiri dari metagunungapi dan metasedimen.

BATUAN GUNUNG API

PUSAT IMUN terdiri dari dasit dan/atau riolit
PUSAT PUSUK BUKIT terdiri dari dasit dan andesit
PUSAT SIPISO-PISO tediri dari dasit dan andesit
PUSAT TOBA
UNIT SIBUTAN terdiri dari lava riolit dan piroklastik (stuan tufa tak terpetakan
UNIT SIBANDANG terdiri dari riolit
TUFA TOBA terdiri dari tufa riodasit sebagian terlaskan

PUSAT TAKUR TAKUR
UNIT TAKUR TAKUR terdiri dari andesit, dasit dan piroklastik
PUSAT SIMBOLON
UNIT SIMBOLON terdiri dari lava andesit, plug dan piroklastik
FORMASI GUNUNG API TRUMON terdiri dari batuan gunungapi andesit dan batupasir
FORMASI GUNUNGAPI HARANGGAOL terdiri dari andesit, dasit dan piroklastik
FORMASI GUNUNGAPI PINAPAN terdiri dari Andesit, hipabisal dan piroklastik
FORMASI GUNUNGAPI TORU terdiri dari Aglomerat andesitik
FORMASI GUNUNGAPI TAPAKTUAN terdiri dari gunungapi Menengah

BATUAN TEROBOSAN

Retas pumis berhubungan dengan TUFA TOBA
Retas dolerit berhubungan dengan FORMASI GUNUNGAPI PINAPAN
MIKRODIORIT TRUMON terdiri dari diorit berukuran sedang, mikrodiorit dan mikrodiorit kuarsa yang berhubungan dengan FORMASI GUNUNGAPI PINAPAN.
MIKRODIORIT PARAPAT terdiri dari mikrodiorit kuarsa mungkin berhubungan dengan FORMASI GUNUNGAPI HARANGGAOL.
GRANIT BAKONGAN terdiri dari Leukogranit mika terdaunkan.
GRANIT KETERAN terdiri dari turmalin kasar, granit pegmatitik.
KOMPLEK SIBOLGA terdiri dari granit, sedikit granit berwarna terang, diorit, aplit, pegmatit.

BATUAN MALIHAN (DERAJAT TINGGI)

BATUGAMPING (terubah): marmer dan sekis kapur.


Deskripsi geologi berdasarkan lembar Pematang Siantar akan saya tambahkan lain waktu.

toba-map_l2Dimana Sinabung ?

Dimana Toba ?

Meletusnya SInabung beberapa tahun lalu cukup mengagetkan, ya karena Gunung ini sebelumnya masuk klasifikasi gunung yang tidak aktif dipantau (gunungapi Tipe B). Gunung Sinabung sebelum meletus tahun2010 tidak menunjukkan keatifannya selama 400 tahun sebelumnya. Silahkan baca ulang disini Gunung Sinabung, bangun setelah tidur 400 tahun.
Gunung Sinabung ini menunjukkan aktifitasnya kembali pada Oktober-November tahuin 2013.
Gunung Toba itu kalau meletusnya seberapa besar ya ?”
Lokasi Gunung Sinabung dan Kompleks Kaldera Toba
Lokasi Gunung Sinabung dan Kompleks Kaldera Toba
Perhatiklan luasan atau besarnya dimensi dari Kaldera Toba dan ukuran “Gunung Toba”. Model pembentukan Kaldera Toba yang terbentuk akibat amblasnya puncak “Gunung Toba”.Cerita serta dongengan besarnya letusan Toba ini diceritakan oleh banyak penulis.
Menurut model yang dibuat oleh Van Bamellen ini Gunung Sibayak merupakan bagian dari volkanisme kompleks “Tobanian”.
Program dan proyek mitigasi Gunung Api sekitar Toba ini tentunya tidak dapat mengabaikan peran-peran fenomena geologi disekitarnya. Termasuk Patahan Sumatera yang memotong tentunya
Letusan Toba yang terakhir tercatat 700 000 tahun lalu diceritakan oleh Marufin dibawah ini
Letusan Toba 71 – 75 ribu tahun silam memang sungguh luar biasa. Gunung ini melepaskan energi 1.000 megaton TNT atau 50 ribu kali lipat ledakan bom Hiroshima dan menyemburkan tephra 2.800 km kubik berupa ignimbrit, yakni batuan beku sangat asam yang memang menjadi ciri khas bagi letusan-letusan besar. 800 km kubik tephra diantaranya dihembuskan ke atmosfer sebagai debu vulkanis, yang kemudian terbang mengarah ke barat akibat pengaruh rotasi Bumi sebelum kemudian turun mengendap sebagai hujan abu. Sebagai pembanding, erupsi paroksimal Tambora 1815 (yang dinyatakan terdahsyat dalam sejarah modern) ‘hanya’ menyemburkan 100 km kubik debu dan itupun sudah sanggup mengubah pola cuaca di Bumi selama bertahun-tahun kemudian, yang salah satunya menghasilkan hujan lebat yang salah musim di Eropa dan berujung pada kekalahan Napoleon pada pertempuran besar Waterloo.
Genesa Kaldera Toba
Genersa terbentuknya Kaldera Toba menurut Van Bammelen. Perhatikan kompleks gunungapi ini, serta unung-gunung disekitarnya.
Kerikil (lapili) produk letusan Toba ditemukan hingga di India, yang berjarak 3.000 km dari pusat letusan. Keseluruhan permukaan anak benua India ditimbuni abu letusan dengan ketebalan rata-rata 15 cm. Bahkan di salah satu tempat di India tengah, ketebalan abu letusan Toba mencapai 6 meter. Debu vulkanik dan sulfur yang disemburkan ke langit dalam letusan dahsyat selama 2 minggu tanpa henti itu membentuk tirai penghalang cahaya Matahari yang luar biasa tebalnya di lapisan stratosfer, hingga intensitas cahaya Matahari yang jatuh ke permukaan Bumi menurun drastis tinggal 1 % dari nilai normalnya. Kurangnya cahaya Matahari juga menyebabkan suhu global menurun drastis hingga 3 – 3,5º C dari normal dan memicu terjadinya salah satu zaman es. Rendahnya intensitas cahaya Matahari membuat tumbuh2an berhenti berfotosintesis untuk beberapa lama dan tak sedikit yang bahkan malah mati, seperti terekam di lembaran2 es Greenland.
Bagaimana dengan manusia? Ambrose (1998) berdasar jejak DNA manusia purba menyebut saat itu terjadi situasi “genetic bottleneck” yang ditandai dengan berkurangnya kelimpahan genetik dan populasi manusia. Bahkan dikatakan jumlah individu manusia saat itu (tentunya dari generasi homo sapiens awal seperti homo sapiens neanderthalensis dan rekan-rekannya) merosot drastis hingga tinggal 10 % saja dari populasi semula.
Letusan-letusan Toba
Perhatikan ketinggian topografinya dan ukuran panjang dan lebar kaldera Toba, serta seberapa besar “Kompleks Gunung Toba” ini.
Bencana lingkungan akibat erupsi Toba ini diduga membuat homo neanderthalensis berevolusi menghasilkan individu yang lebih lemah. Sehingga ketika katastrofik berikutnya terjadi, yakni pada 12.900 tahun silam di ujung zaman es tatkala asteroid/komet berdiameter 5 km jatuh ke Bumi dari ketinggian awal yang rendah (mendekati horizon) sehingga benda ini meledak pada ketinggian 60 km di atas Eropa – Amerika sembari melepaskan energi 10 juta megaton TNT, neanderthal tak sanggup lagi bertahan dan punahlah ia bersama kawanan mammoth sang gajah raksasa zaman es.
Danau Toba sekarang ini, apakah masih aktif? Ya. Bekas letusan berskala kecil dan kubah lava baru pasca erupsi hebat itu masih dapat dijumpai di kerucut Pusukbukit di sebelah barat dan kerucut Tandukbenua di sebelah utara. Terangkatnya Pulau Samosir hingga 450 meter dari elevasi semula (yang dapat dilihat dari lapisan2 sedimen danau di pulau ini) juga menunjukkan bahwa reservoir magma Toba telah terisi kembali, secara parsial. Studi seismik menunjukkan di bawah danau Toba terdapat sedikitnya dua reservoir magma di kedalaman 40-an km dengan ketebalan 6-10 km.
Kapan Toba akan kembali meletus dahsyat? Kita tidak tahu. Namun dilihat dari historinya butuh waktu sedikitnya 300 ribu tahun pasca letusan besar Toba untuk kembali menghasilkan letusan katastrofik. Memang sempat muncul kekhawatiran Toba akan kembali menggeliat pasca guncangan gempa megathrust Sumatra Andaman 2004 yang mencapai 9,15 Mw itu dengan episenter hanya 300 km di sebelah barat danau, namun sejauh ini belum terbukti. Kekhawatiran ini bukannya tanpa alasan. Krakatau bangkit dari tidur panjangnya selama 200-an tahun tatkala gempa besar mengguncang kawasan Selat Sunda di awal 1883 dimana getarannya terasakan hingga ke Australia.

Sumber: http://rovicky.wordpress.com/
Copyright © 2012 Raun-raun Medan